jump to navigation

Jangan Suudzon Kepada Sesama January 11, 2008

Posted by dimasdermawan in Transcendence.
Tags: , , , ,
3 comments

Assalamualikum Wr. Wb,

Kemarin malam, ketika saya sedang surfing saya menemukan sesuatu artikel “Islam dan Yahudi” yang ditulis oleh Abd Moqsith Ghazali, yang menurut saya sangat bagus sekali. Sebab sepengetahuan saya, banyak umat Islam yang tidak mengetahui bahwasanya tidak semua orang Yahudi adalah orang orang yang culas, keras, bahkan jahat (maaf bukannya saya adalah seorang Yahudi/cinta kepada Yahudi, saya hanya ingin meluruskan). Nyatanya banyak umat Islam yang tidak tahu bahwa selalu ada kelompok-kelompok di kalangan Yahudi yang berfikir obyektif dan bertindak adil dalam menata hubungan dengan umat Islam. Mereka tidak seburuk dibayangkan umat Islam.

Memang selama ini kita dihadapkan pada fakta dan bukti sejarah bahwa mereka (orang orang Yahudi) adalah orang orang yang tidak dapat dipercaya. Pandangan ini didasarkan pada fakta orang-orang Yahudi Madinah yang melanggar sebuah traktat politik yang disepakati bersama, Piagam Madinah (pada jaman Nabi Muhammad SAW) hingga terjadi konflik antara orang Islam dan Yahudi. Bahkan hingga detik ini, kawasan Palestina bukan zona aman bagi penduduk negeri itu. Di Palestina, orang Yahudi dan Islam saling menghancurkan. Sehingga, semua orang Yahudi dipukul rata sebagai bangsa yang jahat bahkan tidak berperikemanusiaan dikarenakan mereka membombardir tanpa pandang bulu ke wilayah Palestina.

Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa tidak semua orang Yahudi berperilaku buruk terhadap umat Islam. Sebagai contoh : Pertama, ketika berusia dua belas tahun, tahun 582 M., Muhammad menyertai pamannya (Abu Thalib) dalam kafilah dagang menuju Syam. Sesampainya di Boshra, mereka bertemu dengan Buhaira (disebut juga Jirjis atau Sirjin), seorang pendeta Yahudi. Pendeta ini menegaskan, ada tiga manusia utama, yaitu Buhaira, Rubab al-Syana, dan satu orang yang sedang ditunggu. Orang itu, menurutnya, adalah anak muda yang sedang berada di sisinya, Muhammad. Ketika Muhammad bersama Maysarah pergi yang kedua kali ke Syam untuk menjalankan bisnis Khadijah (sebelum menjadi isterinya), Nestor (pendeta Yahudi) memberi kesaksian tentang kenabian Muhammad. Nestor berkata, dia seorang nabi. Ini berarti, pengakuan terhadap kenabian Muhammad justru pertama kali diberikan orang Yahudi, Buhaira dan Nestor. Kedua, Mukhayrîq, seorang Yahudi Bani Tsa`labah yang pintar dan kaya raya (menguasai ladang dan kebun-kebun kurma di Madinah) adalah salah seorang korban perang Uhud. Di pagi hari, saat mendengar informasi akan berlangsungnya peperangan antara Musyrik Mekah melawan umat Islam, Mukhairiq memerintahkan pengikutnya untuk tunduk pada Piagam Madinah. Sebagaimana dalam Piagam Madinah, membela umat Islam dari serangan luar adalah benar. Ketika diprotes karena peperangan bertepatan dengan hari Sabat, Mukhayrîq menjawab: membantu Muhammad tak menodai hari Sabat. Ia menegaskan, Muhammad adalah ahli warisnya. “Jika gugur dalam peperangan nanti, semua hartaku kuserahkan kepada Muhammad untuk suatu keperluan yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya”, tandas Mukhayrîq. Ia menyiapkan pedang, berangkat menuju bukit Uhud dan turut berjuang hingga akhirnya meninggal dunia. Mukhairiq adalah prototipe Yahudi yang taat asas dan kuat memegang kesepakatan. Ketiga, orang-orang Yahudi pernah membantu umat Islam dalam penaklukan kota Andalus. Pada zaman Daulah Abbasiyah, orang-orang Yahudi–di samping orang Nashrani dan Shabi’ah–banyak membantu berjalannya roda pemerintahan. Saat itu, orang-orang Yahudi terlibat dalam proses penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab.

Jadi, jangan sampai kita memukul rata satu agama atau satu kepercayaan atau kaum itu jahat, dikarenakan oleh perbuatan segelintir orang. Kita tidak mau jugakan disebut sebagai pemeluk (maaf) agama teroris dikarenakan ulah beberapa orang yang mengatasnamakan agama dalam melaksanakan niat tidak terpuji mereka.

Terimakasih bagi anda yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca ulasan dari saya ini. Semoga kita selalu dalam bimbingan Allah SWT.

Wassalam Wr. Wb